Merayakan Idul Fitri Lengkap dengan Tradisinya

by DEWA


Suasana ramai di jalan Residen Pamuji

Sekarang tepat pukul 00.09 tanggal 1 Syawal 1431H. Hari ini umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Berbagai tradisi Idul Fitri mulai hari ini juga akan kembali dilakukan. Begitu juga dengan tradisi Idul Fitri di keluarga saya.

Biasanya kami salat di Masjid dekat pasar tradisional Mojokerto. Nampaknya untuk lebaran kali ini belum ada keinginan untuk salat di masjid lain. Pagi nanti, tepat pukul 06.00 saya bersama keluarga akan berangkat Salat Ied. Kami berangkat dengan berjalan kaki. Yah, semoga saja tidak telat, karena biasanya adik saya sulit untuk dibangunkan jika salat hari raya seperti ini.

Seusai salat dan khatbah, kami sekeluarga berjalan kaki menuju ke rumah kakek. Biasanya kami bertemu kakek dan nenek di tengah perjalanan. Masjid tempat kami salat biasanya sama. Sepanjang perjalanan menuju rumah kakek, kami bersalaman dengan tetangga dan kerabat.  Sungguh terasa nuansa lebaran di daerah saya.

Biasanya nenek sudah menyiapkan hidangan istimewa saat lebaran. Biasanya beliau masak opor ayam dan semua masakan yang mendukungnya. Saya belum tahu untuk lebaran kali ini, apa masih sama masakannya. Sebelum kami melakukan ritual maaf – maafan, saya sekeluarga makan pagi terlebih dahulu.

Setelah makan pagi, kami langsung melakukan ritual maaf – maafan. Seperti tata kramanya, yang tertua meminta maaf kepada yang lebih tua terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan yang lebih mudanya. Nenek bersalaman dan meminta maaf kepada kakek, ibu dan bapak meminta maaf kepada kakek dan nenek, ibu meminta maaf kepada bapak, dan seterusnya.

Om Daru dan tante Retno lengkap dengan keluarganya pun tidak mau kalah. Hari pertama lebaran sebelum mereka berlebaran di kampung mereka di Surabaya, mereka menyempatkan diri untuk berlebaran di rumah kakek. Seperti biasa, ritual yang kedua akan dilakukan di sini, yakni berbagi rejeki (baca : amplop).

Setelah selesai seluruhnya, saya sekeluarga pamit untuk pulang kerumah. Kami menunggu sampai pukul 10.00 untuk berangkat berlebaran di desa Dawar Blandong. Ya, ini merupakan desa asal bapak saya. Sembari menunggu, biasanya kami menyambut tamu anak – anak kecil tetangga kami yang sowan ke rumah. Selain itu, ibu juga bersih – bersih rumah.

Sekitar pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil KUDA-nya kakek menuju ke desa Dawar Blandong. Jarak antara Dawar dan rumah kami tidak jauh, sekitar 30km. Kami biasanya menempuh perjalanan selama 3/4 jam. Jalannya berliku dan bergeronjal. Kami harus melewati hutan untuk mencapainya.

Jajanan Desa sebagai Jamuan Silaturahmi

Sesampai kami di Dawar Blandong, kami langsung menuju ke saudara – saudara yang jauh terlebih dahulu. Kami sekeluarga bertemu dengan keluarga satu-kakek di rumah saudara itu. Setelah semua saudara terjamah, kami melakukan silaturahmi di keluarga internal kakek dari ayah saya. Kakek dan nenek dari ayah saya sudah meninggal, sehingga kami melakukan ritual maaf – maafan seadanya, tidak seperti tradisi di keluarga kakek dari ibu saya.

Suasana santai di rumah Banyulegi

Memasuki sore hari, saatnya bersiap untuk pulang. Kami biasanya pulang paling awal daripada keluarga yang lain. hal ini kami lakukan karena tradisi di lingkungan kami, halal bihalal-nya dilakukan di malam pertama Lebaran. Keluarga yang lain pun memakluminya. Biasanya bapak tidak ikut pulang ke Mojokerto, karena masih rindu dengan saudara – saudaranya.

Setelah Magrib ritual di lingkungan saya dilaksanakan. Biasanya saya sekeluarga mencari kelompok untuk berkunjung ke tetangga – tetangga yang lebih dituakan. Gang saya terlihat sangat ramai. Tetangga – tetangga yang masih muda biasanya keluar dari rumah mereka untuk bersalam – salaman di sepanjang gang. Suasananya sungguh sangat cocok dengan nama gang saya, yakni gotong royong. (sebenarnya kurang pas sih, :D)

Itulah tradisi sederhana perayaan Idul Fitri di lingkungan dan keluarga saya. Bagaimana dengan tradisi perayaan Idul Fitri di keluarga dan lingkungan Anda ?