Apa Itu Kepemimpinan Profetik ?

by DEWA



Pembaca yang saya hormati, kali ini saya akan berbagi tulisan yang berbeda dengan yang biasa saya tulis di blog ini. Kali ini saya akan berbagi beberapa resume materi. Saya mendapat materi ini dari diskusi – diskusi yang saya ikuti baik  di kampus, di PPSDMS, ataupun di beberapa kegiatan yang lain. Tulisan ini membahas tentang Kepemimpinan Profetik. Saya mendapat materi Kepemimpinan Profetik dari acara Trainning Pengembangan Diri PPSDMS. Penyampai materi adalah Bapak Bachtiar Firdaus, aktifis muda dan mantan Ketua BEM UI. Berikut pembahasannya :

Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata. Latar belakang mengapa PPSDMS mengajarkan kepemimpinan profetik adalah karena PPSDMS ingin memberikan konsep yang berbeda dan memberikan konsep kepemimpinan para nabi atau tokoh islam lainnya. PPSDMS menginginkan kita menjadi umat yang terbaik. Untuk itu, kita harus berusaha secara terbaik.

Misi pertama dari kepemimpinan profetik adalah misi humanism. Misi humanisme adalah misi untuk memanusiakan manusia. Sudah selayaknya, untuk menjadi pemimpin yang baik maka kita harus memberikan himbauan agar mengamalkan perbuatan – perbuatan yang terpuji.

Misi yang kedua adalah menyelamatkan manusia dari kepurukan. Misi ini diperlukan usaha yang lebih untuk mencapainya. Pemimpin seyogyanya mehimbau masyarakatnya ntuk keluar dari kebiasaan kebiasaan buruk.

Misi yang terakhir adalah penerapan kedua misi tersebut secara terus – menerus dan istiqomah. Hal ini harus dilakukan semua aktifis atau pedakwah kampus agar seusai masa perkuliahan jiwa – jiwa yang kita tanam di kampus ini tidak akan hilang.

Jika kita mengaitkan konsep kepemimpinan profetik dalam kehidupan kampus, maka kita bisa membuat sebuah piramida tipe mahasiswa kampus. Kuantitas tiap tipenya sesuai dengan piramida, yakni semakin tinggi semakin sedikit. Tipe mahasiswa kampus dapat digolongkan menjadi tipe akademis, organisatoris, konseptor, dan ideolog.

Tipe akademis adalah mahasiswa yang hanya fokus pada akademik mereka. Mereka serasa acuh terhadap lingkungan mereka belajar. Biasanya kegiatan keseharian mereka adalah kuliah – pulang – kuliah – pulang, atau kupu-kupu. Mahasiswa jenis ini paling tidak direkomendasikan untuk menjadi pemimpin.

Tipe yang kedua adalah organisatoris. Mahasiswa dengan tipe ini adalah mereka yang tidak hanya berkutat di bidang akademis, namun mereka mulai mencoba untuk berorganisasi. Akan tetapi mereka masih beum bisa membuat sebuah konsep dan cenderung ikut – ikutan. Mahasiswa jenis ini masih dalam tahap belajar untuk menjadi pemimpin.

Tipe selanjutnya dalah konseptor. Mahasiswa ini mampu memberikan konsep yang detail tentang permasalahan atau rancangan kerja. Jika ada masalah mahasiswa tipe ini selalu berorientasi pada solusi

Tipe yang terakhir adalah mahasiswa ideologis. Mahasiswa dalam kelompok ini adalah mahasiswa yang tidak cukup puas hanya menjalankan ideologinya saja, akan tetapi selalu berusaha agar ideologynya dapat diikuti oleh orang lain.

Terdapat beberapa prinsip yang harus ditegakkan untuk mengimplementasikan kepemimpinan profetik:

  1. Prinsip perubahan dalam Islam adalah dalam diri, dari diri sendiri dan untuk kemashlahatan diri
  2. Dalam diri berarti merupakan pencerahan  yang sadar secara hakiki bukan dikondisikan seperti kerumunan, bukan disulap oleh seorang maha guru, dan bukan pula sebuah paksaan
  3. Dari diri sendiri berarti tidak bisa menyalahkan  siapa dan apapun kecuali dirinya, lalu dirinya berubah secara utuh.
  4. Kemashlahatan diri artinya perubahan itu sesuatu tanggung jawab individu, yang pertama-tama adalah demi kebaikan diri sendiri, dan ganjarannya di dunia dan akhirat terpulang kepada diri sendiri.

Hal lain yang harus ditegakkan adalah tata cara atau metodologi dalam mengimplementasikan kepemimpinan profetik. Kita bisa meneladani kisah Nabi Muhammad SAW, saat beliau membangun kembali masyarakat muslim baru di kota Madinah, beliau mendasarkan kekuatannya pada:
Kesatuan visi dan orientasi hidup
Agar visi masyarakat Madinah terarah dan fokus, beliau memutuskan untu membangun masjid di kota itu
Semangat persatuan dan solidaritas
Cara untuk menumbuhkan semangat persatuan dan solidaritas adalah dengan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar
Kemandirian dalam bidang ekonomi
Untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, Nabi Muhammad membangun pasar muslim yang dipisah dari pasar Yahudi
Kedaulatan politik ummat
Nabi Muhammad mengadakan perjanjian Madinah untuk membentuk kedaulatan ummat.

Semoga tulisan ini bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan Profetik sekaligus mampu memberi manfaat bagi semua pembaca.