Berkabung di Saat Hari Raya

by DEWA


Suasana jalan Dawar yang lumayan ramai

Hari ini seluruh keluarga dari Nenek berduka cita. Pakdhe Kamil dini hari tadi dipanggil oleh Allah dengan dikaruniai sakit komplikasi. Beliau meinggalkan satu istri, tiga anak, tiga cucu, dan banyak sanak saudara.

Setelah pulang dari rumah sakit pada dini hari tadi, rombongan kami tidak langsung menuju ke rumah duka. Kami pulang terlebih dahulu untuk bersih – bersih diri dan salat subuh. Setelah subuh kami berangkat ke rumah duka di Dawar Blandong.

Kami berangkat menggunakan dua mobil. Kakek, nenek, bapak, ibu, pakdhe Agus, budhe Danis, dan adik berangkat dengan menggunakan mobil KUDA. Sementara itu saya, om Daru dan tante Retno menyusul dengan menggunakan mobil Taruna-nya om Daru. Selain jalannya ramai, beberapa ruas jalan jurusan Mojokerto – Dawar Blandong sedang diperbaiki, sehingga perjalanannya membutuhkan sedikit kesabaran.

Kami tiba di rumah duka pukul 06.30 WIB. Suasana kesedihan langsung terpancar di rumah duka. Nampak sebuah kereta jenasah di depan rumah duka. Warga sekitar berjumbel untuk melayat pakdhe Kamil. Sebagian dari mereka menyiapkan bambu – bambu untuk keperluan persemayaman. Sebagian lagi secara bergiliran melakukan salat jenasah dan tahlil di ruang tamu.


Suasana berkabung di rumah duka

Jenasah disemayamkan pukul 09.00. Tempat persemayamannya adalah kuburan di belakang pasar Dawar. Sebelum berangkat, ada sambutan dari perwakilan keluarga. Inti sambutan terebut adalah permintaan maaf dari keluarga atas kesalahan pakdhe Kamil. Kami berjalan kaki bersama – sama menuju tempat persemayaman. Terlihat banyak sekali warga yang mengiringi kepergian pakdhe Kamil ke tempat persemayaman.

Tiba di tempat, jenasah langsung disemayamkan. Yang melakukan proses persemayaman adalah mas adhi – putra beliau, pakdhe kolis – kakak ipar beliau, dan mas harto – menantu beliau. Saya dan adik melihat dari dekat proses persemayamannya sampai selesai. Sempat terlintas pertanyaan dalam benak saya, bagaimana saya nanti ketika sudah seperti itu. Kejadian tersebut mengingatkan saya betapa pentingnya menyiapkan modal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Seusai proses persemayaman, saya dan adik diajak bapak untuk mampir ke rumah teman beliau di gang yang bersebelahan dengan gang rumah pakdhe Kamil. Teman bapak dan istrinya adalah alumni SMPP, yang sekarang namanya SMAN 1 Sooko. Bapak dan temannya sedikit bernostalgia saat bersilaturahmi.

Setelah itu, kami pulang menuju rumah pakdhe Kamil. Kakek dan ibu mengajak untuk mencari makan di luar karena mereka belum sarapan. Kami pun berpamitan untuk sejenak mencari makan di luar. Setelah agak sulit mencari warung yang buka di hari Lebaran seperti ini, kami akhirnya menemukan warung soto.

Makan pagi di warung soto

Ibu teringat bahwa mbah Warno, paklik dari bapak, pernah menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan kakek. Oleh karena itu, seusai kami makan, kami tidak langsung kembali ke rumah duka. Akan tetapi, kami menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke rumah mbah Warno di Greyol. Sungguh bahagia saat mbah Warno disambangi kakek. Mereka akhirnya bernostalgia tentang masa – masa muda mereka dulu.

Lumayan lama kami bersilaturahmi di rumah mbah Warno. Sekitar pukul 12.00, kami kembali ke rumah duka. Setelah bercanda gurau beberapa menit, kami sekeluarga berpamitan untuk balik ke rumah Mojokerto. Nampak raut muka keluarga pakdhe Kamil yang semakin tabah.

Semoga momen duka di saat hari raya ini menjadi momen yang sangat berharga bagi keluarga kami. Semoga keluarga pakdhe Kamil diberi Allah ketabahan dan rejeki yang lebih melimpah. Amin.