Menambal Jin di Pasar Tanjung Anyar

by DEWA


Saya sengaja menulis judul dengan menggunakan kata “Jin” agar ambigu saat membacanya. Maksud saya adalah Menambal Jean di Pasar Tanjung Anyar. Sekilas beberapa pembaca menganggap bahwa tulisan saya berbau mistis karena ada hubungannya dengan Jin.😀

Sebenarnya hari ini saya tidak melakukan salah satu hobi saya, travelling, seperti hari – hari biasanya di saat suasana berlebaran seperti ini. Hari ini saya memang sengaja tidak ikut acara halal bihalal. Tadi siang, kakek mengajak untuk halal bihalal dengan keluarga dari kakek di Kabuh, Jombang. Oleh karena saya ingin hari ini fokus mengerjakan tugas, saya memutuskan untuk tidak mengikuti rombongan.

Hari ini saya fokus menyelesaikan amanah asrama PPSDMS, yakni mengedit video visualisasi mimpi. Sebenarnya untuk mengedit video saya tidak membutuhkan waktu yang lama. Saya lama menyelesaikan proyek ini karena harus secara satu – persatu me-printscreen dari file power point tiap anak. Setiap anak membuat ilustrasi visualisasi mimpi sendiri – sendiri. Saya mendapat amanah untuk menggabungkannya dalam satu scene film. Nampaknya saya tidak bisa menyelesaikan hari ini, karenaharus menunggu beberapa teman saya yang belum mengumpulkan file power point visualisasi mimpi mereka.

Selain itu, saya diutus ibu untuk menambal celana jean saya yang lobang ke pasar. Ini merupakan pengalaman pertama saya menambalkan kain di dalam pasar. Sebelum – sebelumnya yang pergi untuk menambal kalau bukan ibu, ya adik. Sungguh takjub melihat pasar tradisional yang masih hidup. Di wilayah yang saya kunjungi terdapat beberapa Los / pembagian wilayah. Ada los buah, los makanan, los daging, los sepeda, los arloji, dan los jahit. Saya menambalkan ini di los jahit.

Sungguh luar biasa penjahit – penjahit yang berada di los jahit. Dengan majunya teknologi dewasa ini, mereka masih survive dan setia menggunakan mesin jahit kuno. Mereka menafkahi keluarga mereka sehari – hari juga menggunakan alat tersebut. Mesin jahit – mesin jahit tersebut tersusun rapi berjejer. Disediakan kursi bagi pelanggannya tepat berhadapan dengan kursni penjahit. Alhamdulillah, meskipun masih menggunakan mesin jahit kuno, los jahit tersebut masih ramai dikunjungi konsumen. Saya menunggu sampai proses menambal selesai sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Ongkos jahitnya pun terbilang murah, cuma Rp 5000,00 per item.

Suasana di los penjahit

Setelah saya keluar dari pasar, saya menyempatkan diri untuk mampir membeli es Teler favorit saya. Momen ini juga memberi banyak pelajaran untuk saya. Olek karena ketidakhatihatian saya, tas plastik isi es yang saya bawa jatuh. Hal itu terjadi tepat di depan penjual es. Dengan berbesar hati, penjual es tersebut menggantinya dengan cuma – cuma. Sungguh terpuji sifatnya.