Menghadiri Dua Halal Bihalal dalam Sehari

by DEWA


halal bihalal

Alhamdulillah, akhirnya sempat menulis pengalaman harian lagi. Kemarin saya capek sekali karena, yang tadinya saya memprediksi pukul 16.00 sudah selesai, ternyata kemarin pukul 19.00 baru sampai di rumah. Setelah sampai di rumah saya tidur dan tidak sempat menulis pengalaman harian yang sangat mengesankan pada hari itu.

Saya kemarin menghadiri dua agenda halal bihalal. Halal biahalal yang pertama adalah halal bihalal dengan guru – guru SMA. Halal bihalal kedua adalah halal bihalal dengan teman ibu saya saat beliau mengikuti program sertfikasi guru di Universitas Mataram selama satu tahun. Dua – duanya merupakan hal yang penting bagi saya, sehingga saya sangat antusias untuk menghadiri keduanya.

Halal Bihalal dengan Guru – Guru SMA

Halal bihalal dengan pergi berkunjung ke rumah guru – guru SMA merupakan agenda tahunan saya bersama teman – teman SMA saya. Saya tidak pernah absen mengikuti acara ini sejak saya duduk di kelas XI SMA. Sampai saya dan teman – teman saya semester 5 ini pun, tradisi baik itu masih berjalan.

Format acara ini hampir sama setiap tahunnya. Sebelum berangkat ke guru – guru, kami berkumpul terlebih dahulu di rumah Helpi, di wilayah Joko Tole. Kami ber-halal bihalal internal terlebih dahulu di sana. Setelah semua lengkap, kami siap untuk mengunjungi rumah guru – guru SMA satu persatu. Lama kami berkunjung tergantung dengan situasi saat kami berkunjung dan keakraban kami dengan guru yang kami kunjungi. Biasanya kalau guru yang enak diajak ngobrol, kami meluangkan waktu agak lama. Apalagi jika guru tersebut menyediakan hidangan, wah pasti kami akan lebih betah berada di rumahnya.😀 Setelah semua list guru sudah kami kunjungi, kami saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing – masing.

Untuk tahun ini, saya sengaja datang lebih akhir karena harus mengerjakan beberapa tugas. Saya mendapat pemberitahuan untuk kumpul di rumah Helpi pukul 08.00. Saya sudah ijin untuk datang pukul 09.30. Saat saya datang rombongan masih berada di rute kunjungan pertama, yakni rumah guru Fisika kami, Bapak Heru Purwanto. Beliau saat itu tidak ada di rumah.

Kunjungan kami lanjutkan ke rumah guru senior Bahasa Indonesia, Ibu Marheni. Rumah beliau berada di jalan Pandan. Untung saja, saat itu beliau ada di rumah. Kami tidak lama berkunjung di sana. Oia, tradisi kami adalah mendokumentasikan seluruh kunjungan kami. Kebetulan setiap tahun, saya selalu mendapat amanah sebagai sie dokumentasi.😀

Kunjungan ke rumah bu Marheni

Seusai kami mendokumentasikan kunjungan kami, kami berpamitan untuk melanjutkan berkunjung ke rumah guru – guru yang lainnya. Tujuan selanjutnya adalah rumah guru Akuntansi, Bu Woro, di wilayah gang Mawar Wates. Rumah beliau nampak sepi. Ternyata saat itu beliau tidak ada di rumah. Di saat tujuan selanjutnya pun kami bernasib sama. Bu Ninik, guru Bahasa Indonesia, sedang tidak berada di rumah. Kata saudaranya, beliau masih berada di luar kota.

Sudah dua guru yang tidak berada di rumahnya. Kami tidak putus asa. Kami langsung bergegas melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, yakni guru Kimia kami, bu Endang. Rumah beliau berada tepat di samping jembatan Gajah Mada. Meskipun cuma mengajar satu semester saja, saya sangat terkesan dengan cara bu Endang mengajar. Beliau mengajar dengan gaya khasnya, kocak dan unik. Itu yang membuat kami betah berlama – lama di sana. Beliau sempat berpesan, “Saat kamu besar dan sukses nanti, yang kamu cari adalah teman – teman SMA”. Beliau berpesan agar silaturahmi ini harus berjalan terus dan tiap tahun. InsyaAllah, jika di tahun – tahun berikutnya saya saat ada kegiatan ini saya sedang tidak memegang amanah di luar kota, saya akan selalu menyempatkan untuk mengikuti kegiatan ini.

Kunjungan ke rumah bu Endang

Setelah berlama – lama di rumah bu Endang, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke bu Erna, guru sosiologi kami. Bu Erna, yang merupakan ibu dari teman seangkatan kami, Mutia, terkenal dengan nasihat – nasihatnya. Hampir tiap pelajaran, beliau selalu menyisipkan nasihat. Saat itu, alhamdulillah, beliau sedang ada di rumah.

Berkunjung ke rumah bu Erna

Berkunjung ke rumah bu Diah merupakan agenda selanjutnya. Rumah bu Diah berada tidak jauh dari rumah bu Erna, yang berada di depan SMPN 1 Sooko, yakni di perumahan Puskopat. Bu diah juga merupakan ibu dari teman kami, namun tidak satu angkatan. Rama dan Randi, putra bu Diah merupakan adik kelas kami. Saat itu rombongan kami bareng dengan rombongan adik kelas satu tahun kami. Oleh karena itu, kami, sebagai rombongan yang lebih akhir bertamunya, harus rela menunggu giliran. Sembari menunggu rombongan sebelumnya berpamitan, kami menyempatkan diri untuk salat Dhuhur. Kunjungan kami di bu Diah sungguh spesial. Kami sering disuguhi beberapa hidangan. Setelah kami usai salat dan rombongan sebelumnya berpamitan, kami pun dijamu oleh beliau. Beliau bercerita bahwa beberapa hari yang lalu beliau sakit. Akan tetapi saat itu sudah sembuh karena gembira akan kehadiran murid – muridnya. Sungguh mukjijat silaturahmi yang luar biasa.

Kunjungan ke rumah bu Diah

Halal Bihalal dengan Kerabat Ibu

Selama saya berada di rumah bu Diah, saya terus dihubungi ibu saya untuk segera pulang dan bersiap berkunjung ke rumah pak ALim di Jombang. Saya berbelit karena menunggu rombongan berpamitan dari rumah bu Diah. Oleh karena terlalu lama, ibu saya mengutus saya agar menitipkan sepeda di rumah sakit Sakinah kemudian dijemput dengan mobil di sana.

Setelah berpamitan dengan bu Diah, saya bergegas menuju ke rumah sakit Sakinah. Ternyata mobil keluarga saya sudah tiba di depan rumah sakit terlebih dahulu. Saya sempat dimarahi ibu karena terlalu lama berpamitan. Ibu ingin kami tiba di sana lebih dahulu daripada keluarganya bu Mispa. Akan tetapi beliau akhirnya paham setelah saya jelaskan kejadiannya.

Bu Mispa, teman sertifikasi ibu yang berasal dari Balikpapan, lebaran kali ini tidak mendapat tiket pesawat di bandara Solo untuk pulang ke Balikpapan. Oleh karena itu, keluarganya memutuskan untuk pulang dari bandara Juanda Surabaya. Momen itu pun pak Alim dan kawan – kawan memanfaatkan untuk reuni. Sebelum ke Surabaya, keluarga bu Mispa bisa mampir di Jombang beberapa jam untuk reuni. Alhamdulillah, keluarga bu Mispa tidak berkeberatan.

Program sertifikasi guru yang diikuti oleh ibu dan belasan guru – guru se-Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan dilaksanakan tepat awal tahun 2008. Program yang ditempuh adalah program pendidikan selama satu tahun. Nah, selama satu tahun itulah mereka seperti dipersaudarakan dalam rumah kost. Mereka berjuang bersama di Mataram. Pak Alim adalah ketua kelas saat itu. Suasana persaudaraan itulah yang ingin pak Alim dkk timbulkan lagi tahun ini.

Pukul 01.00 tepat keluarga saya tiba di rumah pak Alim, dengan sebelumnya terlalu lama  di perjalanan salah karena memilih jalan yang tiga kali lebih jauh. Kami langsung disambut hangat oleh pak Alim sekeluarga, pak Wahyu, bu Ima, dan bu Mispa sekeluarga. Tiba di sana, kami disuguhi dengan hidangan nasi pecel dan opor ayam. Meskipun kata pak Alim itu merupakan hidangan seadanya, bagi saya itu merupakan hidangan yang cukup istimewa.

Bu Mispa mengajak suami, putra, dan putrinya. Suami bu Mispa, pak Edi, merupakan pegawai Chevron Balikpapan. Putra bu Mispa, mas Soma, merupakan lulusan universitas di Malaysia jurusan desain dan fotografi. Dia gemar sekali mengabadikan seluruh seluk beluk acara reuni itu dengan dua kamera super canggihnya. Puti bu Mispa, mbak Sekar, merupakan mahasiswa semester 7 jurusan kuliner art di salah satu Universitas Malaysia.

Suasana Halal Bihalal di Rumah Pak Alim

Acara Halal Bihalal di rumah pak Alim ditutup dengan sambutan dari pak Alim dan doa oleh pak Edi. Inti sambutan tersebut adalah semua berharap agar reuni ini bisa diselenggarakan tiap tahun. Tahun depan mungkin dilaksanakan di rumah bu Tulus (ibu saya), tahun depannya lagi semoga bisa di Kalimantan. Kemudian di Lombok, sekaligus bertemu dengan dosen – dosen Unram.

Bu Mispa sekeluarga tidak langsung menuju ke Surabaya, beliau dan keluarga menyempatkan berkunjung sebentar di rumah bu Narti di daerah Mojowarno, Jombang. Setelah usai bersilahturahmi di rumah bu Narti, ibu menawarkan diri untuk menjamu keluarga bu Mispa di rumah. Akan tetapi, oleh karena hari sudah petang, rencana itu ditunda. Barangkali tahun depan kondisinya bisa lebih memungkinkan.

Ibu pernah berjanji kepada saya untuk mentraktir di rawon Rosobo, Mojoagung. Saya dan adik menagihnya sehingga saat perjalanan pulang kami menyempatkan mampir ke rumah makan Rosobo. Sungguh luar biasa daging rawonnya, meskipun porsinya standar, daging rawon yang lembut membuat rawon tersebut istimewa. Setelah kami kenyang menyantap rawon Rosobo, kami langsung menuju masjid untuk salat Magrib,  kemudian menuju ke rumah sakit Sakinah untuk mengambil sepeda saya, dan akhirnya pulang ke rumah.

Sungguh petualangan hari tersebut sangat mengesankan. Banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa saya ambil. Salah satunya pentingnya silahturahmi. Semoga tulisan akan pengalaman saya ini dapat mengingatkan kita akan pentingnya silahturahmi.