Pengenalan Kecerdasan Buatan

by DEWA


Artificial Intelligence

Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara menerjemahkan sifat rasional pemikiran manusia pada  mesin. Ilmu ini mempelajari bagaimana cara mesin bisa bersikap seperti seakan – akan mesin tersebut hidup. Dengan memanfaatkan algoritma – algoritma tertentu, kita bisa menjadikan mesin tersebut mengerti dan bisa bersikap secara rasional.

Pada kuliah kedua kali ini, Misbakhul Munir Irfan Subakti,S.Kom.,M.Sc. atau lebih akrab dipanggil pak Irfan, menjelaskan tentang pengenalan Kecerdasan Buatan. Pertemua kali ini merupakan pertemuan pertama yang membahas materi. Pertemuan sebelumnya beliau dengan gaya kocaknya berbagi pengalaman kuliah beliau di Luar Negeri. Referensi yang digunakan beliau adalah buku Artificial Intelligence – A Modern Aproach karangan J. Russek Stuart dan  Peter Norvina.

Dalam teknologi informasi, Artificial Intelligence (AI) dapat diterapkan dalam pembuatan aplikasi, game, dan sistem informasi cerdas. Yang paling nampak manfaat penggunaannya adalah dalam pembuatan game. AI dibutuhkan untuk membuat kecerdasan di dalam game tersebut yang biasanya direpresentasikan dengan karakter musuh atau rintangan – rintangan yang lain. AI juga sangat bermanfaat dalam pembuatan robot. Dalam robotika terdapat istilah autonomos, yakni otomatisasi pergerakan dan pengambilan keputusan oleh mesin.

AI harus dibuat secara efektif dan efisien. Efektif dalam artian tujuan kecerdasan diciptakan harus jelas. Efisien dalam artian untuk mencapai tujuan tersebut kita harus memakai algoritma yang seefektif mungkin. Keefisienan algoritma sangat berguna untuk memperkecil ukuran yang dibutuhkan suatu script AI untuk disimpan dalam media. Bayangkan saja jika kita tidak efisien dalam membuat AI pada Nanorobot yang mempunyai kapasitas penyimpanan hanya 200kb. Bisa – bisa semua script algoritma yang sudah kita buat tidak akan bisa tersimpan dan akhirnya Nanorobot tersebut tidak dapat tercipta.

Terdapat empat pandangan AI : “Thinking Humanly”, “Thinking Rationally”, “Acting Humanly”, dan “Thinking Rationally”. Pada perkembangan terakhir ini AI lebih ditekankan ke pandangan “Acting Rationally”. Semua AI diimplementasikan untuk menciptakan mesin yang cerdas yang bisa bersikap rasional selayaknya manusia.

Meskipun sepintar – pintarnya manusia menciptakan AI, kecerdasan AI tidak akan mampu menyaingi manusia. Selain karena manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa, manusia juga memiliki kemampuan berpikir yang non-monotonic (selalu berkembang). Coba saja buat robot AI untuk menciptkan puisi. Puisi tersebut pasti tidak laku untuk merayu hati seorang wanita karena robot tidak memilki perasaan.