Final ITBPC : Jalan – jalan dan Berbelanja di Bandung

by DEWA


Kesesokan hari setelah babak Final, saya dan teman – teman saya memang sudah merencanakan untuk jalan – jalan. Problem terbesar kami adalah tidak ada yang tahu Bandung dan bersedia menjadi penunjuk arah di Bandung. Akan tetapi problem itu dapat teratasi. Setelah pada hari sebelumnya malamnya Simson keluar bersama teman – teman SMAnya, ternyata hari ini ia minta tolong ke salah satu teman SMA 5-nya untuk mengantar kami putar – putar kota Bandung. Teman Simson itu bernama Novian, mahasiswa Pharmaceutical Science and Technology ITB. Fian adalah anak yang suka menolong dan tanpa pamrih.Sebelum kami berangkat jalan – jalan, Fian menyempatkan diri untuk datang ke Wisma Dago. Dia menjemput kami sembari menunggu kami packing dan bersiap untuk checkout. Setelah checkout dari Wisma Dago, saya memohon kepada Fian untuk diantar ke tempat penjualan souvenir yang bertuliskan ITB, karena saya mendapat amanah dari teman saya untuk membawa oleh – oleh tersebut. Oleh karena kopma tutup, saya mendapatkannya di koprasi masjid Salman.

Kami selanjutnya naik angkot menuju kost-nya Fian. Rumah kost fian adalah model rumah bertingkat. Kamar fian sendiri berada di lantai tiga. Kamarnya sangat rapi. Semua barangnya tertata dengan teratur. Supaya kami tidak terganggu dengan barang – barang bawaan kami saat menikmati jalan – jalan, kami menitipkan barang bawaan kami di kamarnya.

Tujuan pertama yang kami tuju adalah pusat Factory Outlet Cihampelas. Daerah ini merupakan pusat toko baju dan semacamnya. Banyak baju – baju khas Bandung di jual di sini. Tidak baju saja yang dibuat unik, bangunan – bangunan toko baju di daerah ini dibuat sedemikaian rupa sehingga nampak sangat unik. Ada yang didesain seperti kapal, ada yang diberi patung Superman, dll.

Di tempat itu, saya hanya membeli satu kaos hitam. itung – hitung di asrama saya tidak memiliki kaos hitam. Lagi pula kainnya sangat lembut dan saya menyukainya. Kaos tersebut saya beli seharga Rp 70.000,00. Selain saya, Simson dan Angga juga beli kaos di toko yang berbeda dengan tempat saya beli.

Setelah belanja sedikit itu, rombongan kami diajak Fian untuk mampir ke G-Walk, sebuah Mall di lokasi Cihampelas itu. Mall tersebut sangat unik. Desainnya sangat futuristik dan setiap orang yang melewatinya saja pasti merasa senang. Di G-Walk, saya, Angga, dan Fian mampir salat Dhuhur. Sementara itu, yang lain sibuk melihat – lihat produk yang ditawarkan di sana.

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah ada kios batik yang menawarkan jasa les membuat batik gratis. Saya saat itu tertarik dan berminat untuk mencoba. Ternyat teknik untuk membatik sulit. Tangan harus dalam posisi 30 derajat lah, dan aturan – aturan lain semacamnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya orang yang membuat batik yang bersifat kompleks itu.

Tujuan kedua setelah kami puas di Cihampelas adalah ke pusat distro di Bandung. Saya lupa apa daeahnya, yang jelas di jalan tersebut terdapat SMP Katholik. Di sana berjejer distro – distro kecil khas Bandung. Saya dan rombongan saya langsung mampir ke distro Ovale. Meskipun hanya melihat – lihat saja, kami sangat puas dengan apa yang kami lakukan tersebut.

Di tempat itu, saya memesan Lumpia Basah khas Bandung. Kalau di Bandung nama lumpia basah berbeda dengan Risoles. Lumpiah basah di Bandung adalah campuran toge, tahu, dan telor yang dibungkus di dadar tepung. Cara makannya adalah dengan menggunakan sumpit. Harganya lumayan murah, yakni Rp 5.000,00. Lumayanlah bisa mengganjal perut pada waktu itu.

Setelah dari pusat distro, kami berpindah ke Kartika Sari. Seperti biasanya, kami membeli oleh – oleh panganan di sini. ami hanya sebentar di Kartika Sari. Saat itu Angga sibuk mencari strowberry titipan temannya. Dia tidak menemukan di Kartika Sari atau toko Strowberry depan Kartika Sari. Dia akhirnya menemukan strowberry di swalayan saat kami membeli kebutuhan untuk di Kereta.

Yups, setelah dari Kartika Sari, kami mampir ke Swalayan depan kost Fian untuk membeli makanan pengganjal perut saat di Kereta. Pengalaman saat berangkat dua hari yang lalu, kami merasa sangat lapar ketika berada di kereta. Selain karena makanan mahal yang ditawarkan selalu menggoda hati, kami juga tidak memiliki cadangan makanan yang bisa mengganjal perut.

Kami istirahat di kost Fian beberapa menit, kemudian kami mencari makan. Kami makan soto ayam dan sate di warung depan rumah kost Fian. Salah satu pedagangnya ternyata berasal dari Bangkalan Madura. Saya sedikit ngobrol dengan beliau dalam bahasa Jawa😀

Pukul 18.00 tepat kami pamitan dari rumah kost Fian. Kami diantar FIan sampai ke trotoar sebrang rumah Fian. Kami ditunggu sampai kami mendapat angkot yang tepat. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya nemu juga. Kami berpamitan kepada Fian dan bersiap naik ke angkot Dago – Stasiun.

Semoga perjlanan kali ini mampu memberikan pembelajaran bagi diri saya agar bisa menjadi pribadi yang suka menolong tanpa pamrih.