Belajar IT kepada Dokter Spesialis Kandungan

by DEWA


Subhanallah, memang Ilmu Allah jauh lebih luas daripada luas lautan di Bumi. Memang banyak orang yang menguasai satu bidang keilmian secara mendalam. Akan tetapi tidak banyak orang yang mengexplorasi ilmu di luar bidang keilmuannya dan mempelajari secara mendalam. Hal itu berbeda dengan sosok, dr Danu Maryoto Teguh, Sp. OG. Dokter spesialis kandungan RS Nur Ummi Numbi Manukan Surabaya yang juga  mahir memanfaatan IT di bidang medis.

Pertama saya mengenal beliau adalah saat sesi Dialog Tokoh PPSDMS bulan Maret 2011. Saat itu beliau diundang sebagai Nara Sumber. Beliau menyampaikan materi mengenai pentingnya penerapan ilmu sesuai dengan bidang keilmuan kita kepada masyarakat. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan beliau. Namun, hal yang istimewa adalah Beliau merupakan dokter spesialis kandungan yang memiliki kegemaran akan bidang Teknologi Informasi. Pada saat sesi penyampaian itu, beliau lebih banyak cerita mengenai pengalaman beliau terkait pemanfaatan IT di bidang kesehatan.

Di akhir sesi tersebut saya berkesempatan untuk bertanya sekaligus curhat mengenai fenomena yang sering terjadi di kampus Teknik Informatika ITS. Intinya sebagian besar dari karya mahasiswa tidak kontekstual dengan kebutuhan IT di masyarakat. Terkadang mahasiswa sudah jauh – jauh mengeksplorasi teknologi baru akan tetapi dalam penerapannya tidak tepat sasaran pada permasalahan masyarakat. Salah satu pemicu terjadinya hal seperti itu adalah kurangnya pihak yang bersedia menjebatani antara apa yang diproduksi mahasiswa dan kebutuhan apa yang benar – benar dibutuhkan di masyarakat.

Selain pemaparan di atas, saya juga curhat mengenai betapa sulitnya untuk “membujuk” masyarakat agar menggunakan teknologi yang up-to-date. Masyarakat terkadang berpikir terlalu kolot. Jika teknologi yang “jadul” saja sudah memenuhi kebutuhan mereka, mengapa harus merogoh kocek lagi untuk mengganti dengan teknologi yang lebih baru. Toh akhir – akhirnya hasilnya sama.

Dari beberapa penjelasan pemancing saya itu, beliau lantas kembali bercerita panjang mengenai pengalaman beliau menggarap sistem absensi sidik jari dan sistem pencatatan riwayat suhu inkubator. Beliau menekankan bahwasanya mahasiswa harus lebih peka terhadap permasalahan di masyarakat sehingga dengan keahlian sesuai bidang kelimuannya mahasiswa mampu berkontribusi nyata dengan memberi solusi permasalahan tersebut.

Bersilaturahmi ke Lokasi Kerja dr Danu

Berselang 2 minggu pascaacara Diskusi Pasca Kampus, supervisor Asrama memberitahu saya untuk menghubungi dokter Danu. Saat itu posisi beliau masih di Bandung, sedang menyelesaikan program Doctoral beliau. Setelah beberapa kali saya berkomunikasi dengan beliau, saya diamanahi beliau untuk berkunjung ke Manukan, lokasi tempat beliau bekerja.

Jujur, ini merupakan kali pertama saya bepergian ke daeran manukan – Surabaya Barat. Berbekal navigasi dari maps.google.com dan balasan SMS petunjuk jalan terdekat dari Johan, teman yang berdomisili di Benowo, saya beranikan diri untuk berangkat. Berkali – kali saya menanyakan berturut – turut lokasi berikut : Tidar, Tanjungsari, Balongsari, dan Manukan.

Saat saya berada di lokasi salah satu rumah sakit di Manukan, saya menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah benar rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit milik dokter Danu. Ternyata saya salah, akan tetapi sebegitu populernya nama beliau, petugas itu menunjukkan lokasi detail RS Nur Ummi Numbi. Padahal lokasinya masih kurang 3-4 km. Setelah tanya sekali lagi, tibalah saya di RS Nur Ummi Numbi.

Saat itu dr Danu masih menemui tamu dari Dinas Kesehatan yang sedang melakukan sidak. Sembari menjamu tamu, beliau menyuruh saya untuk melihat – lihat sistem registrasi yang ada di komputer resepsionis RS. Oleh karena tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai aplikasi yang terpasang di Rumah Sakit itu, saya mencoba – coba aplikasi di meja resepsionis itu.

Aplikasi Rumah Sakit yang terpasang lumayan kompleks. Aplikasi itu tidak hanya menangani urusan registrasi saja, tetapi juga menangani pelaporan rawat inap, rawat jalan, dll. Aplikasi itu sudah menggunakan database yang terintegrasi ke seluruh bagian di Rumah Sakit. Dengan demikian alur penyimpanan data lebih terstruktur. Aplikasi sekompleks itu ternyata dibangun dengan menggunakan Delphi 2 dan sudah dibangun sejak 2002-an.

Setelah beliau selesai menjamu tamu dari Dinas Pendidikan, beliau menjelaskan secara detail aplikasi yang ada di rumah sakit itu. Mulai dari sistem absensi sidik jari, seluruh pencatatan aktifitas medis dan administratif yang terintegrasi, sampai dengan keinginan – keinginan beliau untuk mengembangkan sistem IT ke depannya.

Sistem Registrasi Online

Salah satu mimpi beliau adalah membuat sebuah sistem registrasi online. Sistem ini mengintegrasikan database seluruh dinas kepemerintahan yang datanya dibutuhkan oleh instansi – instansi yang lain. Dengan sistem database yang terpusat seperti itu, dimungkinkan upaya untuk menjadikan database seluruh instansi lebih efisien dalam hal penyimpanan data.

Pada studi kasus sistem registrasi rumah sakit misalnya, saat registrasi pasien baru biasanya petugas resepsionis menanyakan informasi detail mengenai pasien. Mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, alamat lengkap, dan sebagainya. Jika pada aplikasi pada rumah sakit tersebut menggunakan database yang terintegrasi, tinggal memasukkan nomor KTP saja, kita bisa mendapatkan seluruh informasi mengenai pasien baru tersebut.

Hal ini juga meminimalisasi resiko redundasi dan ketidakvalidan data yang dimasukkan. Bisa saja satu orang pasien baru terdaftar sampai 3 kali hanya karena sistem tidak mendata bahwa pasien tersebut sudah terdaftar sebelumya.

Jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya ide brilian ini merupakan sebuah inovasi baru. Bisa dibayangkan betapa terbantunya permasalahan – permasalahan pada masyarakat. Beberapa di antaranya adalah banyaknya data diri yang palsu, tidak adanya pihak yang mampu menvalidasi kebenaran data seseorang, dan masih banyak lagi.

Rencananya sistem yang dibuat menggunakan teknologi web service. Setiap dinas kepemerintahan tersebut menyediakan web service yang dapat diakses oleh aplikasi tiap instansi yang membutuhkan datanya.

Untuk mengurangi peluang terjadinya bandwidht overload, proses sinkronisasi database dilakukan secara bertahap. Seluruh data di RT disingkronisasikan di RW. Seluruh data pada beberapa RW disingkronisasikan di Kelurahan. Begitu seterusnya sampai seluruh data yang berada di Kabupaten disingkronisasikan dengan data Dinas Kepemerintahan yang terkait. Proses singkronisasi data itu dilakukan secara periodik.

Rumah sakit sekaligus Rumah sekaligus Laboratorium sekaligus Bengkel

Seusai dr Danu menjelaskan sistem IT yang rencana akan dibuat, saya diajak beliau untuk masuk. Saya diajak masuk ke dalam laboratorium elektronikanya. Di sana terdapat hardware pendukung pembuatan sistem elektronika (saya kurang paham apa namanya). Bangunan yang awalnya saya anggap hanya merupakan rumah sakit, ternyata juga merupakan Rumah, Laboratorium, sekaligus Bengkel dr Danu.

Saya juga dikenalkan dengan 2 alumni T. Elektro ITS angkatan 2005. Saya juga menyempatkan ngobrol dengan mereka. Mereka kenal dengan dr Danu saat beliau berkunjung ke Elcen, semacam expo milik jurusan T. Elektro ITS. Beliau menawarkan ke mereka dan mereka pun tertarik untuk bergabung.

Saat itu kedua alumi T. Elektro tersebut sedang mengerjakan sistem penditeksi tetesan infus. Dengan alat itu, jumlah dan kecepatan tetesan akan direkam secara digital sehingga dapat dianalisis riwayat performa dari alat penetes infus. Dr Danu bersama kedua alumni tersebut membuat alat – alat itu berbasis industri rumah tangga. Tidak tergantung dengan alat – alat canggih buatan luar negeri. Semuanya dirakit sendiri.

Pukul 17.00 saya berpamitan kepada beliau. Saya diamanahi untuk mengirimkan portofolio yang berisi tentang karya – karya saya di bidang IT. Beliau berencana mengenalkan saya kepada tim programmer IT yang turut membangun sistem IT rumah sakit itu. Memang saya pribadi sangat ingin ilmu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, saya antusias menanggapi ajakan beliau tersebut.

Sungguh banyak pelajaran yang saya raih. Terinspirasi, termotivasi, merasa sangat bodoh, seperti itulah perasaan – perasaan saya pada waktu itu. Semoga pelajaran ini bisa bersifat langgeng dalam memberikan pengaruh positif terhadap diri saya dan semoga saya benar – benar bisa mengimplementasikan ilmu saya secara tepat sasaran terhadap permasalahan di masyarakat. Amin