Surabaya–Semarang-Solo-Surabaya

by DEWA


Map picture

Pada post ini saya ingin berbagi pengalaman. Sesuai dengan judul, saya telah membuat sebuah Rute Hamiltonian dari Node Surabaya, Semarang, Solo, sampai kembali ke node Surabaya Smile. Pengalaman ini mengenai perjuangan saya saat perjalanan berangkat dan perjalanan pulang dalam rangka menghadiri Future Leader Summit 2011 di Undip. Jujur, hal ini merupakan kali pertama saya ke Semarang.

Banyak hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya ini. Mulai dari pentingnya sebuah persiapan, jangan percaya dengan orang yang baru dikenal, dan masih banyak lagi. Open-mouthed smile

Peserta yang lolos seleksi FLS 2011, yang dari ITS ada saya, avief, faisal, dan lutfia, dan yang dari Unair hanya WIldan. Saya kenal semuanya. Avief dan Faisal adalah teman asrama PPSDMS, sedangkan Lutfia pernah kenal saat di ITS Online. Wildan adalah satu – satunya peserta FLS 2011 dari UNAIR. Dia juga teman saya satu asrama, asrama PPSDMS.

Setelah diumumkannya peserta FLS 2011, saya langsung menghubungi teman – teman saya tersebut. Sampai hari H-2 yang Faisal memberi tahu jikalau dirinya tidak jadi berangkat ke Semarang. Alhasil, tersisa 4 orang.

Pentingnya Sebuah Perencanaan

Awalnya, kami merencanakan untuk berangkat dari surabaya Sabtu, pukul 19.00. Perkiraan kasar, tiba di Semarang pukul 04.00, sholat Subuh dan kemudian langsung ke acara. Akan tetapi fakta berkata lain. Avief dan Lutfia berangkat Sabtu pagi. Mereka ingin menikmati indahnya Semarang (baca : Jalan – jalan) dulu sebelum ke acara. Oleh karena itu, rencana pun langsung berubah. Saya dan Wildan berangkat pukul 16.00. Tidak memperkirakan bagaimana sesampai kami di Semarang kelak.

Keanehan pertama, bus jurusan Semarang via pantura terlihat sepi. Hmm.. Kok aneh, padahal akhir pekan. Keanehan kedua adalah pertanyaan dari penumpang sebelah saya. “Kok berangkat jam segini, Mas. Kalo berangkat jam segini tiba di Semarang sekitar pukul 01.00. Sudah tidak ada angkutan umum. Apalagi ke arah Tembalang”. “Tidaaakkk Sleepy smile, gimana nih”. “. Ah, jalanin aja. Buat pengalaman”, pikirku.

Jangan Gampang Percaya dengan Orang yang Baru Dikenal

Tiba di sana, teriminal Terboyo terlihat sangat sepi. Jangankan angkutan umum yang beroperasi, bus antarkota pun jarang terlihat. Di tengah kesepian tersebut, ada satu supir mikrolet yang sedang menunggu orang – orang yang bernasib sama dengan kami. Saya pun menanyakan kepada beliau cara untuk mencapai Undip Tembalang. Beliau menjelaskan panjang lebar, yang intinya sudah tidak memungkinkan jika ke Tembalang pada jam segini. Beliau akhirnya menawarkan diri untuk mengantar kami. Dengan ongkos 40rb.

Sebelum berangkat, saya menyempatkan untuk melihat di maps.google.com. Jarak antara terminal Terboyo dan Tembalang lumayan jauh. Oleh karena itu, saya dan Wildan tidak keberatan diantar oleh beliau dengan ongkos sebesar itu.

Ternyata, perkiraan saya salah. Beliau menuju Tembalang via jalan Toll. Jalan Toll tersebut jika dipetakan membentuk garis lurus dari terminal Terboyo ke Undip Tembalang dan jaraknya relatif lebih dekat daripada perkiraan saya saat melihat di Google Map. Haduh, tahu gini ongkos 20rb aja cukup dan saya tanyakan kepada Avief, memang harganya sekitar 20rb jika naik angkot biasa. Annoyed

Persiapkan Diri dengan Kondisi Terburuk

Memang tanpa perencanaan yang matang kami berangkat menuju acara FLS 2011 ini. Begitu juga rencana di mana tempat kami akan menginap. Saya dan Wildan pun tidak punya teman yang kuliah di Undip dan bisa dihinggapi untuk beristirahat sejenak. Akhirnya setiba mikrolet yang mengantar kami di Undip, kami baru memutuskan untuk beristirahat di Masjid Undip.

Oleh karena saya tidak tahu di mana masjid Undip berada, saya dan Wildan diturunkan oleh supir mikrolet di pintu masuk Undip. Kami jalan masuk ke Undip kurang lebih 500 meter dan akhirnya menemukan masjid Undip. Memang benar, 500 meter tidak seberapa jauh, tapi dengan kondisi kami yang sudah payah dan ditambah dengan jalanan undip yang naik turun, 500 meter sudah cukup untuk membuat kami tak berdaya Laughing out loud

Saat Berpergian, Atur Pola Makan dengan Baik

Konyol memang kejadian yang saya alami ini. Pada saat acara memang manajemen makan kurang bagus. Saya banyak makan dan kurang beruntungnya, makanan – makanan yang saya konsumsi kurang mengandung serat. Sampai akhirnya makan terakhir adalah makan malam, sekitar pukul 19.30.

Acara berjalan begitu padat dan selesai pukul 21.00. Seusai acara, saya langsung berangkat pulang menuju Surabaya. Saat itu, kondisi perut saya baik – baik saja, merasa sedikit lapar malahan Smile

Saya menunggu bus di Banyumanik sekitar 1 jam. Perut saya mulai merasa lapar lagi. Karena ada penjual jagung rebus, saya makan beberapa jagung rebus sembari menunggu bus. Belum selesai saya menghabiskannya, bus sudah datang.

Bus yang saya tumpangi adalah bus jurusan Solo. Untuk ke Surabaya, saya transit dulu di Terminal Solo, kemudian naik bus jurusan Surabaya. Saat di Terminal Solo pun, kondisi perut saya masih normal. Tidak merasa gejala – gejala yang aneh Open-mouthed smile

Bus pun berangkat menuju Surabaya. Saya tertidur dan terbangun saat bus berada di Kertosono. “Waduh, perut saya kok tidak bersahabat”. Saya baru sadar jika saya belum melakukan proses eksresi harian Open-mouthed smile. Saya tahan dan saya memaksa diri untuk bisa tidur kembali.

Bus tiba di Mojokerto, daerah asal saya. Saya kembali terbangun dengan kondisi perut yang jauh jauh jauh lebih tidak bersahabat. Saat itu kondisi bus sangat sarat dengan penumpang. Tetapi saya dengan keras hati memutuskan untuk turun mencari Pom Bensin. Untung di Mojokerto, jadi saya hafal letak – letak pom bensin.

Saya memaksa kernet bus yang ada di belakang untuk memberi aba – aba kepada supir untuk memberhentikan bus. Bus berhenti tidak tepat di depan pom bensin. Bus berhenti kira – kira 300m setelah pom bensin.

Setelah saya turun, saya langsung berlari menuju pom bensin. “hssshhh….Untunglah”. pikir saya. “Ups, bagaimana saya bisa tiba di Surabaya?” sebuah pertanyaan yang seharusnya terlontar beberapa jam sebelum saya putuskan untuk turun Open-mouthed smile

Malu Bertanya, Tidak Sampai di Surabaya

Saya tanya petugas Pom, tempat pemberhentian bus terdekat ada di mana. Ternyata baru ada sekitar 1 km dari tempat pom bensin. “Hadeehh”.

Oleh karena tidak ada kendaraan umum yang bisa berhenti, saya terpaksa berjalan. Sepanjang jalan, saya bertanya kepada 2 orang yang lain. Jawaban mereka pun sama. 1 km lagi. Sad smile

Sampai akhirnya saya tanya ke Ibu yang nampaknya menunggu sesuatu. Beliau memberitahu biasanya ada mobil travel menuju Surabaya. Saya pun berpikir untuk ngikut ibu itu sampai tempat pemberhentian bus.

Seperti yang saya duga, semua bus penuh sesak. Saya akhirnya nekat untuk tetap naik bus yang penuh itu. Sejauh 10 km, saya harus berdiri, tepat di pintu masuk/keluar bus. Haduh,, saya terus berdoa agar tidak terjadi apa – apa.

Itulah efek samping dari gagalnya fungsi pengendalian kualitas transportasi di Indonesia. Seharusnya tahu seperti itu, polisi lalu lintas sebagai aparat penegak hukum menindak tegas supir bus yang memaksa busnya memuat penumpang yang jauh melebihi kuantitas.

Memang luar biasa pengalaman perjalanan pertama saya ke Semarang ini. Memang tidak sempat untuk menikmati keindahan kota atau wisata di Semarang. Akan tetapi, pengalaman dan pembelajaran yang saya dapat jauh lebih mengesankan Smile