Menanggapi Tulisan dan Polemik

by DEWA


Jaman sekarang, kebebasan berbicara dijunjung tinggi. Setiap orang sekalipun mampu mengutarakan pendapatnya melalui blog pribadi atau media masa. Begitu populer istilah citizen jurnalism di telinga kita.

Semakin banyak tulisan, semakin banyak tanggapan, dan semakin banyak pula peluang munculnya polemik. Kita harus bisa bersikap bijak dalam menanggapi hal tersebut.

Menanggapi Tulisan Orang Lain

Untuk memahami tulisan orang lain, kita sebaiknya memahami substansi dan metode penulisan terlebih dahulu. Untuk itu, kita perlu melihat dalam beberapa aspek. Aspek – aspek tersebut adalah gagasan utama tulisan, alasan penulis membuat tulisan, konteks pemikiran penulis, metode pemikiran, fakta / data yang disajikan, serta referensi yang menjadi rujukan penulis.

Mengkritisi Tulisan

Kita bisa saja mengritisi tulisan seseorang. Hal – hal yang perlu kita kritisi antara lain :

  • Kelemahan Substansial (penting tidaknya gagasan yang disampaikan)
  • Kelemahan Metodologi (tepat tidaknya metode untuk membuat kesimpulan)
  • Kelemahan Referensi (kredibel tidaknya rujukan yang dipakai)
  • Kelemahan Faktual (valid tidaknya data yang digunakan)

Jika sebuah tulisan memiliki salah satu atau beberapa diantara poin di atas, kita dapat memberi kritikan atau saran yang membangun kepada sang penulis.

Untuk mendukung atau memperkuat tulisan orang lain, kita bisa melihat :

  • Urgensi dari gagasan yang diusulkan penulis
  • Kelebihan dari gagasan
  • Siapa saja orang yang telah menyetujui pengaruhnya
  • Apa manfaat dari pandangan penullis bagi masyarakat

Manajemen Polemik

Polemik merupakan diskusi atau perdebatan yang diadalakan di tempat umum atau media masa dalam bentuk tulisan. Polemik berawal dari sesuatu yang berpeluang untuk diperdebatkan. Penulis yang relatif heterogen memiliki latar belakang tertentu dalam menanggapi permasalahan. Untuk itu, mereka akan melakukan “perang” ide dengan menggunakan tulisan.

Contoh polemik banyak kita temui di media masa. Dalam menanggapi topik yang sama, penulis – penulis handal saling mengutarakan ide. Misalnya, tentang perkembangan sastra, terdapat perang ide antara T. Ismail dan H. Hidayat. Pemikiran politik pak T. Kiemas yang saat itu dikritisi oleh beberapa editor senior seperti pak Sapto Waluyo. Dewasa ini, polemik juga bisa saja bermunculan di jejaring sosial, seperti facebook, twitter, dll.

Polemik boleh saja terjadi, asal kita bisa bersikap bijak dalam menanggapinya. Untuk menanggapi polemik, kita bisa melakukan hal – hal berikut :

  • Fokus pada substansi masalah, bukan pribadi penulis
  • Gunakan bahasa yang santun dan mudan dimengerti.
  • Kendalikan diri. Tentukan kapan saat memulai dan kapan saat mengakhiri
  • Buka wawasan untuk menerima pendapat orang lain
  • Libatkan publik yang lebih luas

Semoga dengan mampu menanggapi tulisan dan polemik secara bijak, kita dapat mengutarakan ide kita dengan cara yang lebih elegan. Selamat berpolemik Winking smile

 

sumber : Training Jurnalistik PPSDMS, 4-5 Juni 2011, oleh Pak Sapto Waluyo