Perbaiki Diri Dulu, baru …

by DEWA


Minggu – minggu terakhir ini saya sangat bersemangat untuk meningkatkan kapasitas diri. Hmm. Hal ini dilatarbelakangi oleh deklarasi diri untuk siap menyempurnakan separuh agama di tahun 2013. Belum lagi, diperkuat juga oleh restu dari kedua orang tua. Ya Allah, semoga perbaikan diri ini tetap berdasarkan niat untuk memperoleh ridho-Mu. Amin Smile

Bukannya karena mau menyempurnakan separuh agama saja, saya bersedia memperbaiki diri. Dari dulu insyaAllah saya senantiasa memperbaiki diri. Deklarasi tersebut bagaikan sebuah booster semangat untuk memperbaiki diri. Tetap landasan niatnya adalah karena Allah.

Gini ceritanya, berawal dari keikutsertaanku di program beasiswa Fast Track Jerman. Beasiswa ini mengikat kontrak sampai studi S3 di negeri Jerman. Jika saya lulus S2 tahun 2013, amin ya Allah, maka saya akan berangkat ke jerman pada akhir tahun 2013, atau awal tahun 2014. Ternyata, program ini banyak mengubah rencana strategisku.

Umur saya pada waktu itu antara 23 – 24 tahun. Secara logika, pada usia 23 – 24 tahun dan berada pada negeri asing, belum ada pendamping hidup lagi, pasti godaan kemaksiatan itu sangat besar. Wong, di Indonesia yang penduduknya masih berbudaya timur saja sangat sulit menghindar dari kemaksiatan, apalagi di Jerman yang budayanya adalah budaya barat yang bebas.

Untuk itu, saya memberanikan diri (dan pasti berani) untuk mencari tulang rusuk yang patah sebelum saya berangkat ke Jerman. Banyak alasan mengapa saya mengambil keputusan itu. Selain menunaikan sunnah Rosul, saya ingin menenteramkan hati serta mempercepat aliran rejeki.

Restu Allah Restu Orang Tua

Prinsip saya, restu Allah adalah restu orang tua. Saya harus mendapat restu dari orang tua saya dulu. Saya pun sudah menyusun strategi cara efektif untuk mengkomunikasikan berita besar ini kepada orang tua.

Pewacanaan awal saya memanfaatkan momen2 bercanda dengan orang tua. Secara eksplisit, saya menceritakan kalau banyak teman yang sudah berencana untuk menyempurnakan separuh agama mereka sebelum berangkat ke Jerman. Agaknya orang tua saya belum peka, kalau anak tercintanya ini sangat ingin sekali menunaikan amalan mulia itu. Crying face

Selanjutnya, saya menggunakan pendekatan yang lain. Saat saya di Surabaya, saya mengirim SMS kepada Ibu, yang ada di Mojokerto. “Buk, dikiwa galau nikah nich. Hehe, mangke mawon nggih buk, dikiwa ngobrol via FB”. Betapa terkejutnya ibu saya saat mendapat SMS seperti itu. “Oalah le le.. Kuliah durung beres kok malah mikir nikah. Mbok yo mbantu Ibuk mbiayai dik Ian”. Dengan tenang, saya balas, “Nggih buk. Santae.. Smile Mangke mawon dikwa jelasno detail.

Mengirim Proposal

Saya berjanji untuk memberi penjelasan yang lebih detail via Facebook. Mungkin Ibu saya mengira, saya akan chatting dengan beliau. Tapi perkiraan itu salah. Saya memutuskan untuk berkomunikasi dalam bentuk surat.

Yaps, saya menulis surat, semacam proposal, agar Ibu dapat memahami pemikiranku secara lebih dalam. Dalam proposal yang saya kirim, saya menjelaskan urgensitas mengapa saya harus menikah, kriteria calon pendamping idaman, rencana strategis 5 tahun ke depan, dan artikel – artikel yang menjelaskan keutamaan nikah muda secara umum.

Hmm.. harap – harap cemas saya menunggu feedback dari Ibu saya. Dan.. Alhamdulillah Ya Allah.

Semula ibuk bingung. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba membicarakan hal ‘menikah’. Namun setelah membaca dengan cermat dan berkali-kali, ibuk menjadi paham benar. Jelasnya ibuk merestui niat untuk menikah muda seperti yang sudah direncanakan. Mudah-mudahan tidak ada hal-hal yang menjadi penghalang. Amin.

Agaknya kurang afdol jikalau kami membahas sesuatu yang besar hanya melalui SMS. Saya memutuskan untuk pulang di akhir pekan ini. Alhamdulillah, meski cuma 1 malam, gak sampai 1 hari, saya sempat untuk pulang ke rumah, berbagi kegalauan dengan keluarga.

Setelah sholat Maghrib jamaah bersama Ibu, saya dan Ibu ngobrol di ruang tengah. Saya merasa lebih tenang, karena ini bukan kali pertama saya membahas topik ini. Saya sudah membukanya dengan komunikasi melalui SMS dan proposal.

Saya jelaskan pelan – pelan maksud proposal saya. Saya jelaskan kriteria pendamping idaman menurut versi saya. Poin – perpoin saya jelaskan dengan gamblang. Dan saya menanyakan pendapat beliau, ada kriteria khusus kah yang beliau ingini.

“Ada”. jawab beliau. “Apa buk"?”. “Menyayangi keluarga dengan sebaik – baiknya.”. Eaa. ya jelas lah Buk. Hehe, ternyata beliau menyampaikannya dengan sedikit bercanda Open-mouthed smile 

Ya Allah, sungguh saat itu menjadi pijakan awal untuk melejit memperbaiki diri. Memperbaiki diri dalam 3 Aspek. Aspek batiniah, aspek spirituali-iah, dan aspek finansial-iah.

Alhamdulillah, restu orang tua, yang insyaAllah juga restu Allah, saya dapati. Tahap berikutnya adalam menyiapkan diri dengan sebaik – baiknya untuk menyongsong tahun cinta, tahun 2013. Open-mouthed smile

Kenapa Harus Memperbaiki Diri dulu?

Anyway. Itu tadi adalah pengalaman pribadiku.
Lantas, pertanyaan besarnya mengapa kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu?

Simple. Bagi saya menikah bagai meminjam sesuatu kepada Allah. Proses peminjamannya tentu tidak gratis. Kapasitas dan kesiapan diri kita lah yang merupakan modal kita. Saat kita berdoa adalah proses tawar – menawar dengan Allah mengenai sesuatu yang ingin kita miliki. Allah sebagai pemilik segalanya akan ridha untuk meminjamkan apa yang dimiliki-Nya kepada kita jika memang kita LAYAK dipinjami sesuatu itu.

Nah, jika kita sebagai pihak peminjam masih kurang layak untuk meminjam suatu yang kita inginkan, Allah sebagai pemilik kurang percaya pada kita. Hal ini dikarenakan kemungkinan besar, dengan modal kita yang kurang, kita tidak bisa merawatnya dengan baik. Oleh karena itu, kita harus benar – benar layak saat menghadap kepada Allah untuk melakukan proses peminjaman “mutiara”-Nya.

Memperbaiki Diri dengan sebaik – baiknya adalah Cara Menjemput Jodoh dengan Sebaik – Baiknya

Saya sangat percaya pada firman Allah:

“… wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). “(QS An Nur:26)

Ya Allah Yang Maha Menepati Janji. Sungguh saya ingin menjadi laki – laki yang baik itu Ya Allah. Jika kita percaya hal ini, pasti kita akan berlomba – lomba untuk mendapat predikat baik itu.

Memperbaiki Diri yang Seperti Apa?

Ya. Definisi memperbaiki diri nampaknya terlalu luas. Memperbaiki diri seperti apa kah yang dimaksud? Saya mencoba menganalisis dari dua aspek : Kesiapan Pernikahan dan Peran kita, khususnya para cowok, sebagai Imam (pemimpin) di keluarga.

Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan

Hal utama yang dimaksud baik adalah dalam baik dalam segi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Secara logika, setiap orang pasti lebih menyukai seseorang yang agamis, selalu mengajak pada kebaikan dan meninggalkan keburukan, selalu memotivasi jikalau kita sedang terjatuh, dan dapat menjadi sosok tauladan yang baik.

Sungguh, jika sedang bersama – sama dengan orang yang beriman, hati ini rasanya sangat tentram. Bagai bergaul dengan para ahli surga. Open-mouthed smile Lebay deh kayaknya –_-“

Tolok ukurnya apa nih? Bisa beragam. Ya yang awalnya sholatnya bolong2, bisa diperbaiki menjadi sholat 5 waktu dan tepat waktu ditambah sholat – sholat sunnah lainnya. Yang dulunya tidak bisa mengaji, sekarang diperbaiki menjadi setiap hati mengaji minimal 1 jus. Yang dulu hanya hafal Qul Huwallah Hu Ahad aja, sekarang sudah hafal jus 30, surat Ar Rahman, surat As Shaff, dan beberapa surat lainnya. Yang dulunya jam set3-4 pagi masih tidur di pulau mimpi, sekarang mampu bangun dan melaksanakan sholat malam. Yang dulu terkenal dengan ahli kikir, sekarang menjadi ahli sedekah. Banyak hal kawan yang bisa kita perbaiki dalam segi ini.

Meningkatkan Kompetensi Diri

Tiap individu akan memainkan perannya masing – masing sebagai khalifah di Bumi. Hal itu akan menjadi omong kosong jika individu tersebut tidak memiliki kompetensi. Apa lagi kalau individu tersebut sudah / akan berkeluarga. Hadeh, akan menjadi suatu yang tidak ada faedahnya.

Oleh karena itu kawan, baik yang kedua adalah baik, atau bahkan ekspert, dalam kompetensi kita masing – masing. Yang dulunya IP Semester masih di bawah 3,5, sekarang menjadi di atas 3,99. *IP-nya 4 dung Open-mouthed smile. Yang dulu gak lancar dalam pemrograman, sekarang kerjaannya Online-Judge-an terus. *Kok kompetensinya jurusanku banget ya. He3, maaf sedikit curhat Open-mouthed smile. Selain kompetensi bidang, kompetensi umum juga perlu ditingkatkan. Semisal kemampuan dalam hal public speaking, surnalistik, kepemimpinan, dan bidang umum yang lainnya.

Memapankan Diri dalam Segi Finansial

Sempat berdiskusi dengan teman seasrama yang sudah siap untuk menyempurnakan separuh agamanya. Ternyata, biaya yang dikeluarkan untuk sebuah pengikatan janji suci itu tidaklah murah. Oleh karena itu, memapankan diri secara finansial merupakan hal yang logis untuk dipenuhi.

Jujur, setelah deklarasi itu, saya sangat bersemangat untuk mengerjakan proyek – proyek komersil. Ada suatu beban tersendiri jika target pribadi saya dalam hal finansial tidak terpenuhi.

Selanjutnya Apa?

Yaps, sebenarnya bukan proses selanjutnya. Tapi bisa saja menjadi proses pengiring proses perbaikan diri. Tidak ada salahnya jika kita melakukan observasi terhadap bakal calon pendamping hidup kita. Kita dapat meng-observasi keseharian bakal calon kita itu. Tapi INGAT!! Observasi yang kita lakukan harus tidak bertentangan dengan syariat agama kita.

Dan ingatkah kawan, Ibunda Khadijah pun melakukan observasi mengenai keseharian baginda Rosulullah. Beliau tidak secara langsung melihat, tapi beliau menanyakan ke kerabat – kerabat beliau yang mengetahui keseharian Rosul.

Kawan, jodoh kita sudah Allah tetapkan di lauth mahfud. Tugas kita adalah menjemput jodoh itu dengan cara yang sebaik – baiknya. Cara yang sebaik – baiknya dalam menjemput jodoh adalah dengan memperbaiki diri dengan sebaik – baiknya. INGAT !! Proses perbaikan diri kita jangan ditujukan dalam rangka mencari jodoh. Sudahlah, jodoh baik itu hanya efek samping. Karena, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

Selamat menjadi JAUH LEBIH BAIK Smile